Yang Menyapa

Pagi tadi, aku bangun dengan perasaan tak menentu.

Mimpi yang kudapatkan malam tadi sangat mengusikku. Seperti mendapat sebuah kejutan, teman-teman dari masa sekolah menyapaku. Tak tanggung-tanggung, dari SD, MTs, dan SMA bergantian menyapaku.

Awalnya begini, tepat kemarin saat aku sedang mengobrol ringan dengan ibu aku bilang merasa sedikit kebingungan karena sama sekali tak merasakan rindu pada masa sekolahku dulu. Terlepas sahabat-sahabatku, aku sama sekali tidak rindu. Baik itu Susana sekolah dan apapun tentangnya. Aku yang saat ini baru saja lulus sekolah menengah atas beberapa bulan lalu memang sangat bersyukur, aku tidak suka sekolah. Bahkan saat kelulusanpun, aku terlewat senang sampai sama sekali tidak merasa sedih.

Namun mimpi tadi malam benar-benar menohokku. Baca lebih lanjut

[Tantangan 7 Hari Menulis BasaBasi Store (LINE @zog5070k)] DAY 6 : Harapan 5-10 Tahun ke depan

Aku sempat kehilangan mood-ku untuk menulis hari ini. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, hari ini aku benar-benar malas beranjak dari tempat tidur. Bunga tidur yang kudapat tadi malam sepertinya cukup berpengaruh saat aku bangun besok paginya. Lalu seketika merusak mood-ku hari ini.

Karena teringat masih ada dua tema lagi sampai tantangan 7 hari menulis ini selesai, aku paksakan untuk menulis.

Berbicara soal harapan lima sampai sepuluh tahun kedepan, tentu pasti banyak yang kuinginkan. Bukan hanya tiga, bisa sampai sepuluh, seratus bahkan tak terhitung. Dan di tulisan ini aku akan menuliskan beberapa:

menulis

source : google

  1. Menerbitkan Novel

Menjadi seorang penulis fiksi sudah menjadi cita-citaku sejak kecil. Dari dulu, aku suka sekali menulis cerita-cerita khayalan, sampai detik ini. Namun, untuk masalah publikasi aku belum bisa menembus yang jauh seperti menerbitkan dan mempromosikannya. Cukup mempostingnya di beberapa page yang hanya mendapat like serta komentar yang tak begitu banyak sudah membuatku senang. Apalagi kalau ada teman yang ingin membaca karyaku, aku lebih senang. Satu-satunya yang membuatku teramat senang adalah, dua buah puisiku yang Februari lalu dimuat di koran Pikiran Rakyat. Aku harap, besok-besok giliran cerpenku yang dimuat.

  1. Pergi ke Jepang
cek-biaya-hidup-untuk-kuliah-di-jepang-Uvbgcq6zjr

source : google

Harapan yang cukup klasik memang, tapi ini memang harapanku sedari masih berseragam putih biru. Entah seperti apa negara matahari terbit itu di mataku, yang jelas aku ingin sekali menginjakkan kaki di sana walaupun hanya sekali. Alasan yang membuatku paling giat belajar Bahasa Jepang di SMA dan memilih Prodi Bahasa Jepang sebagai pilihan pertama saat mendaftar SNMPTN (walaupun akhirnya aku lolos seleksi di pilihan kedua). Biar orang bilang Jepang itu seperti ini, seperti itu, tapi aku tetap teguh. Suatu saat pasti akan pergi ke sana, jika Allah memberi kesempatan tentunya.

  1. Menikah

Karena temanya harapan 5-10 tahun mendatang, menikah menjadi salah satunya. Entah harus dikatakan sebagai harapan atau keharusan, apa saja boleh. Tentunya, aku harap aku menikah dengan siapa yang menjadi jodohku, dan aku mencintainya. Ha ha.

  1. Naik Haji

Yang ini jangan ditanya lagi. Bagi setiap muslim pasti melengkapi rukun islam yang terakhir ini memang sangat diinginkan. Akupun begitu. Akan terasa lebih baik jika bisa menunaikan ibadah ini bersama seorang pendamping atau bahkan orang tua.

Harapan yang kumiliki sangat banyak. Akan butuh waktu lama untuk menjabarkannya satu-satu dalam tulisan ini. Dan sebagai manusia yang ingin mewujudkannya, aku akan terus berusaha dan berdoa.

Semoga Allah memudahkan.

 

Soreang, 29 Juli 2017.

Dalam keadaan mood yang berangsur baik.

 

Limuz Bee

[Tantangan 7 Hari Menulis BasaBsi Store (LINE @zog5070k)] DAY 5 : Keanehan Dalam Diriku

Kalau berbicara soal keanehan yang dimiliki, aku tak tahu pasti. karena itu aku perlu sahabatku untuk bertanya. Pada siapa lagi kalau bukan mereka? Sebagian besar waktuku saat disekolah habis bersama mereka. Sahabat-sahabatku pasti tahu apa saja segala keanehanku, apalagi yang sampai membuat mereka ilfeel. Ha ha.

Kemarin-kemarin aku bertanya pada Mety lewat obrolan Whatsapp. Dan apa jawaban Mety, aku langsung mengerti walaupun ia hanya menyebutkan satu kata saja. Rungsing.

20294212_1509591672431687_8259067522376301454_n

Jadi bagaimana ya menjelaskannya. Hmm.. Baca lebih lanjut

[Tantangan 7 Hari Menulis BasaBasi Store (LINE @zog5070k)] DAY 4 : Teman Dari Sosial Media

Di zaman teknologi seperti ini, berteman tanpa bertemu bukan hal aneh lagi. Bahkan orang kebanyakan lebih suka mengobrol lewat Chat daripada bertemu langsung. Kalau dulu ada sahabat pena, lain halnya sekarang. Sahabat Chatting, mungkin?

Ini juga terjadi padaku.

Sejak bergabung dalam grupchat Mahasiswa Baru Program Studi-ku, dengan cepat daftar teman baruku bertambah. Tak ada kesulitan bagiku untuk berinteraksi lewat social media. Tak perlu tatap muka, tak perlu tahu ekspresi wajah, cukup mengetik dan menambah emoji sebagai perwakilan dari ekspresi yang kita rasakan.

Dari grup chatting ini aku mengenal seseorang, Choirunnisa Effendi namanya.

20294290_1508379152552939_1342169165857878917_n Baca lebih lanjut

[Tantangan 7 Hari Menulis BasaBasi Store (LINE @zog5070k)] Day 3 : Karakter Orang Yang Bakal Menarik Perhatianku

tanda tanya

source : google

Bicara soal karakter seseorang yang bakal menarik perhatianku, sebenarnya cukup membingungkan juga. Karena jujur saja, karakter orang itu banyak sekali. Dari satu orang saja, mungkin dia punya beberapa karakter. Seperti berwajah dua gitu. Haha.

Tapi karena tema hari ini bertajuk karakter seseorang yang dapat mengalihkan duniaku menarik perhatianku, jadilah;

  1. Tidak Mudah Marah

Aku ini orangnya jahil dan kadang senang sekali bicara ceplas-ceplos yang mungkin saja membuat orang yang mudah sakit hati akan tersinggung. Karena itu, jika dihadapkan dengan orang seperti ini aku sering kali berhati-hati dalam berbicara. Beda halnya dengan orang yang memiliki karakter tidak mudah marah. Bukannya tersinggung, mereka malah mengganggapnya sebuah lelucon dan bahkan membalasnya lebih sarkastik. Haha.

  1. Bisa diajak Diskusi

Sering kali aku menemukan suatu permasalahan, dan aku perlu teman untuk bicara. Misalkan aku penasaran terhadap sebuah kebenaran atau kejanggalan, aku pasti mencari teman yang bisa diajak diskusi. Entah itu masalah serius atau sekadar hal kecil seperti, cilok ini dibikin kemarin atau hari ini? Haha.

  1. Punya Pilihan

Tak sedikit teman yang mengajakku main keluar. Entah itu hangout atau sekadar bertemu. Namun yang seringkali membuatku sebal, adalah ketika mereka tak memilik tujuan ingin pergi kemana. Kalau tidak bilang, “Kemana aja we” pasti bilang “Terserah kamu aja.” Lah, siapa yang mengajak siapa yang diajakkan?

Dan ketika aku menolak ikut karena tak ada tujuan pasti, responnya malah, “Ih kok gitu?” seakan-akan aku yang disalahkan. Ha Ha Ha.

Ah, seperti apa sih karakter itu? Aku hanya menuliskan apa yang ada di kepalaku saja. Kalau perihal berteman, aku berteman dengan siapa saja. Duh.

 

Soreang, 26 Juli 2017

Ditemani Chyper pt.3 dari BTS.

 

Limuz Bee

[Tantangan 7 Hari Menulis BasaBasi Store (line : @zog5070k)] Day 2 : Secuil Kisah Kebersamaan Dengan Sahabat

EMPAT SEKAWAN AOI CLASS

IMG_5553

Pertemuan kami di Kelas Bahasa adalah sesuatu yang ajaib.

Empat orang dari beda daerah, beda kebiasaan, bertemu dalam satu sekolah di Cianjur. Aku dari Bandung, Mety dari Bekasi, Titi dari Jakarta dan Alvi selaku tuan rumah berasal dari Cianjur.

Kami berempat duduk berdekatan. Mety dengan Alvi dan Aku sebangku dengan Titi. Kalau sudah asik berempat, kami suka lupa kalau kelas milik bersama. Haha.

Berbeda tempat asal, pasti memiliki banyak perbedaan hal juga kan. Salah satunya bahasa yang kami gunakan sehari-hari.

Kalau sedang mengobrol ngalor-ngidul, kami sering kali adu bahasa tempat asal. Mety dan Titi akan menampakkan wajah melongo mereka saat aku dan Alvi asik menggunakan bahasa sunda. Diam-diam mengejek, diam-diam menertawakan mereka. Kalau Titi sudah keluar Betawinya, kami sering terbawa suasana. Ikut memanggil dengan Gua-Elu, tak segan dorong sini, dorong sana. Padahal Titi bukan Betawi asli, orang tuanya asli Jawa. Kalau Mety, si Mba ini juga wong Jowo.

Puncaknya kalau lagi adu bahasa ini adalah saat aku dan Alvi mengelabui Titi dan Mety dengan bahasa sunda. Bilangnya sih mengajari, kan sayang lama-lama tinggal di Cianjur masa tidak bisa sedikitpun bahasa sunda? Sering kali tawa kami tak bisa terkendali saat melihat wajah kesulitan Titi saat mengucapkan ‘eu’ dengan aneh. Hahaha.

Ujung-ujungnya, Titi dan Mety suka mengadu pada Sensei yang mengajar bahasa jepang, perihal aku dan Alvi yang sering menyesatkan mereka dalam bahasa sunda. Apa hubungannya cobak? Ya bahasa lah. Haha.

Bahagia itu sederhana bukan?

 

Soreang, 25 Juli 2017

Duh! Bahuku makin pegal.

 

Limuz Bee