Pramuka: Makrab, menemukan sisi lain dari kawan baru

Dua malam itu, bahkan bukan malam yang penuh, tapi tiap detiknya melahirkan genangan kenang.

Katakan kami kembali menggunakan seragam yang membosankan; hitam-putih-hitam, seperti oreo rasa vanilla. Dan jujur lama-lama membuat mata saya iritasi. Wkwk

Malam keakraban ini dilaksanakan dua malam, tepatnya malam sabtu dan malam ahad. Sedang di hari Sabtu kami dibolehkan untuk giat pribadi.

Sebagian diri saya sungkan, karena merasa diri masih belum dekat dengan kawan-kawan. Namun di sisi lain, justru momen seperti ini yang saya butuhkan terlepas dari rangkaian DIKDASKA untuk CA angkatan 49.

Malam itu Kak Nopen (teman-teman memaksa memanggilnya dengan sebutan ayah) ditemani dengan dua rekan dari Racana; Kak Ilma dan Kak Dini, dengan tubuh berbalut seragam cokelat khas duduk dengan wibawa di hadapan kami. Selayaknya seorang Ayah, ia datang dengan petuah yang dibawa;

Ah, cara menulis seperti ini rasanya kok kurang enak yah? Haha.

Baca lebih lanjut

Iklan

PRAMUKA: Tentang RACANA UPI Angkatan 49

Satu tahun kuliah, rupanya masih banyak sudut kampus yang luput dari perhatian saya.

Sanggar Pramuka, salah satunya.

Faktor letak menjadi salah satu alasan. Bangunan yang terdiri dari beberapa sekat ruangan itu berdiri di ujung jalan Rincik Bumi, tepatnya sebelah selatan gedung University Centre. Tempat yang tak pernah saya perhatikan.

Kali pertama menginjakkan kaki sebagai orang baru, sebutan CTR (Calon Tamu Racana) tersemat walau hanya beberapa hari. Pasalnya, hari ketika saya datang tepat pada pelaksanaan Upacara Penerimaan Tamu Racana (UPTR) malam harinya.

Saat syal putih dikalungkan, sebutan kami menjadi Calon Anggota (CA).

Baca lebih lanjut

Daishiku UPI, Mata Najwa on Stage dan JAPANZUKI SHOW 13

1.

Hari ini sore di Pusat Kegiatan Mahasiswa sambil menunggu kawanku Cahaya yang tak kunjung datang.

Aku tidak ingat kapan terakhir kali pulang ke rumah. Rasanya, akhir pekanku tak pernah kosong dari kegiatan. 

Maka di tulisan ini aku akan kembali bercerita. Ada beberapa cerita yang kualami dalam rentang beberapa waktu. Cek it !

2. 

Tau Otaku?

Atau yang tren akhir-akhir ini, Weaboo? Banyak orang yang menulis berbeda versi, entah Wibu atau vvibu, tapi tetap terdengar ‘wibu‘. Maka aku akan menggunakan penulisan itu. Ehe.

Sudah sangat lama aku suka hal yang berbau Jejepangan; Bahasa, makanan, anime, musik, dll. Namun dulu hanya sekadar suka dan ingin berbeda kesukaan dengan teman-teman perempuan yang lain. Di saat mereka asik Fangirling-an, oppa ini ganteng, oppa ini keren, saya datang dengan membawa husbu-husbu 2 dimensi saya yang akhirnya akan mereka tanggapi dengan, “Suka tuh sama manusia, mus, suka kok sama gambar.” Ugh!

Kalau sudah sampai seperti itu, aku akan berakhir di meja anak-anak cowo yang sama-sama suka anime. Itu terjadi sampai sekarang.

Terhitung hampir satu tahun sejak aku di terima di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. Dan karena masuk ke Program Studi yang bukan benar-benar minat, alias ada campur tangan ibu di sana–dulu waktu mengisi SNMPTN, ibu mengambil alih pilihan jurusan terakhir– maka yang aku tanyakan pertama adalah; apa ada tempat untuk mengekspresikan jiwa wibuku ?

Jawabannya : pasti ada.

Dan memang benar-benar ada.

Sedari awal masuk kuliah, teman seperangkotanku, Icha, sering berkoar kalau dia masuk grup Japanese Club UPI di Line. Entah berapa kali ia berkoar dan tak terhitung juga aku terus meminta untuk diundang. Sampai waktu berlalu satu semester, Icha baru ingat untuk menginvite akunku ke sana. Dasar bekicot!

Maka, dengan polosnya saat komunitas pecinta husbu waifu dua dimensi itu mengadakan Nihon Class, dengan semangat aku bertekad untuk hadir. Masa bodo dengan liburan.

Ini Virza Senpai saat Nihon Class pertama

Namanya, Daishiku.

Komunitas ini masih baru katanya, Mahasiwa 2017 menjadi angkatan ke 3 di Daishiku. 

Hal pertama yang aku rasakan saat pertama kali duduk, tentu sangat awkward rasanya. Datang sendiri tanpa kenalan, tak bisa membedakan pula mana Senpai mana yang seangkatan. Pokoknya saat itu aku gemetaran tanpa sebab.

Nihon Class pertama tanggal 1 April, aku mendapatkan beberapa kenalan dan semuanya senpai. Sebelumnya, tanggal 31 Maret, aku datang sendirian ke Kontesuto Japanzuki Show 13, lihat lomba pidato, kalau-kalau tahun depan saya jadi peserta.

Nihon Class kedua, tanggal 7 April, yang mana adalah hari terpadatku karena sedari pagi sudah ada kegiatan di kelas Video Editing MetroTV, Nihon Class, lalu Mata Najwa yang berakhir pukul 10 malam. Badanku remuk, namun ada setitik bahagia yang kudapat karena dapat hadiah poster anime kesukaanku: Free! Dari Daishiku. Juga mendapat kenalan seangkatan di sana, Raka dan Adam, keduanya cowo

Yah, memang angkatan 3 Daishiku yang selalu datang hanya kami bertiga.

Saat Mata Najwa On Stage

3.

Ini yang paling ditunggu banyak manusia wibu di UPI, event Matsuri JAPANZUKI SHOW 13 !!!!1!11!!!!

Dan yah, lagi-lagi aku sendiri. 

Aku masih merasa sangat kaku di sana, maka aku mencari anak 2017 kalau-kalau ada yang lain.

Juga, aku Cosplaying. Ehe.

Hari itu harusnya jadi hari membuat mading di sekre KEMABA, namun aku tega meninggalkan Aya sendiri di sana setelah menemaninya belanja dan mendekorasi sedikit sekali. Hei, event ini hanya setahun sekali, Mading tiap bulan. Maafkan aku Aya!!!

Jadi ceritanya, aku ngecosu karakter Sagiri Izumi di anime Ero Manga Sensei. Wig dan jaket aku dapat dari pinjaman pada seorang Onii-chan.

Sagiri Izumi dari anime Ero Manga Sensei

Ini saya

Sebenarnya aku cosplay lowbudget. Ga begitu ‘terniat’, hanya sekadar. Yang penting ngosu!

Dan tidak tahu mengapa, aku merasa lebih ekspresif hari ini.

Aku tak segan menyapa senpaitachi dari Daishuki, kenal teman-teman baru dari angkatan 3; Shal, Thalya, Wahyu, Jalu dan Sher. Dan tak segan untuk berbicara.

Uwoo.. 

Sore, Icha datang, tapi Thalya pulang. Berempat kami jalan sama-sama ke sana sini. 

Cosplayer dari Daishiku ada beberapa, ada yang Trapping pula, Kak Nur Nameless berubah jadi Miko penjaga kuil dan seketika jadi bisu. Jaga imej, katanya. Hasilnya, banyak yang tertipu dan menyangkanya perempuan. Haha.

Dari kiri : Thalya, Virza senpai, saya dan Hikari onee-chan (Kak Nur Nameless)

Di bazaar merchandise Anime, aku berburu sendiri, rencananya ingin poster Akashi Seijuro dari Kuroko no Basuke dan Kuroo Tetsuroo dari Haikyu!, malah berakhir dengan; Akashi Seijuro, Kuroko Tetsuya dan Kageyama Tobio. Ada sedikit cerita yang kualami dari berburu merchan ini. 

Nah, ya, ada yang minta foto! 

Wadoo, aku kaget karena ini memang baru debut. Cosplaynya pun asal-asalan, tapi tak kusangka…. aduh, rasanya nano nano. wkwkwk.

Kalau kata kak Hitansy–di sana dia ngaku-ngaku jadi manajer– itu karena aku jalan sendiri tanpa didampingi bodyguard, makanya banyak yang minta foto. 

Dan eh, iya juga sih. Karena saat aku jalan dengan teman-teman, semua normal-normal saja.

Di dalam gedung Ampiteather sangat berisik dan panas, aku dan teman-teman memutuskan untuk tak masuk lagi.

Dan begitu, pukul 8 malam aku dan yang lain memutuskan pulang. 

Galeri :

Dengan cosu Hinata Shoyou, Kuroo ga ada 😦

Miko nee-chan ogah ogahan diusel-usel sama Hinata 😂

Muz, 17 April 2018.

Rahmat dan Nihon no Matsuri di BEC

Ceritaku sekarang bersama Rahmat lagi.

Hari minggu kemarin, iseng-iseng aku dan Rahmat pergi ke BEC saat sebuah poster festival budaya Jepang aku dapatkan dari salah satu grup chat di Line. Nihon no Matsuri–yang aku dengar diadakan oleh mahasiswa Telkom entah jurusan apa– hari minggu kemarin.

Yang kupikirkan sesaat setelah melihat poster tersebut adalah stand-stand yang menjual merchandise anime. Entah itu keychain, poster, sampai action figur, aku suka lihat semuanya. Lihat-lihat saja sih, Ehe.

Kalau bagiku, Matsuri itu sangar familiar dengan Cosplay. Dan tentu saja aku dan Rahmat berharap akan menemukan Coser yang kami inginkan. 

“Ana mah pengen lihat coser Inuyasha..” kata Rahmat dengat wajah berbinar. Aku tersenyum menanggapi, yah, beberapa kali aku datang ke Matsuri, belum pernah sama sekalu menemukan coser Inuyasha.

Lain denganku yang sedang suka anime Kuroko no Basuke, walaupun seri animenya sudah selesai, tapi aku belum bisa move on. Akashi Seijuurou dan Mayuzumi Chihiro masih berputar-putar dipikiranku. Ugh, husbu 2D :v

Namun saat sampai di lokasi, ternyata tidak sesuai ekspetasi. Mungkin karena indoor dan pengunjungnya lumayan banyak, aku dan Rahmat mesti berdesakan untuk bisa melihat CosWalk. Lupakan soal stand Merchandise, aku tak menemukannya di sini.

Akhir-akhir ini aku dan Rahmat sering kembali membahas anime Naruto yang sudah lama selesai. Rasanya seperti nostalgia ke masa kecil. Mempraktekan Gogyaku no Jutsu-nya milik Sasuke, atau Kage Bunshin-nya Naruto. Ugh, aku merasa konyol. Hehehe.

Rahmat bersikukuh menyukai karakter Namikaze Minato, sang Yondaime Hokage, Yellow Flash, ayahnya Naruto. Sementara karakter yang aku suka di Naruto Shippuden adalah Shimura Sai, shinobi anbu dengan Jutsu andalan Choju Giga. Dan yang paling konyol, saat MTs aku pernah menerima seorang kakak kelas hanya karena dia mirip Sai! 

Haha.

Pukul lima sore, aku dan Rahmat memutuskan untuk ke Gramedia saja. Kami tak menemukan coser Inuyasha dan Akashi, Cosplayernya pun tak begitu banyak yang aku kenal. Aku lihat Hyakuya Mikaela dari anime Owari no Seraph, Midori dari Blend S, Kirito dari SAO 2 (yang pas GGO itu loh), Earth-kun, sampai Mermaidman dan Bernacleboy juga ada. 

Kami sempat mengambil foto dengan coser Midori, entah Rahmat yang terlalu sopan atau kebiasaan, ia mengatakan terima kasih dan memanggil si coser itu ‘Teh’ (kakak perempuan di Sunda), sontak coser Midori itu cemberut. Ia tidak suka disapa seperti itu.

Di Gramedia pun kami hanya lihat-lihat, lalu segera beralih ke BIP. Di sana juga kami tak melakukan apa-apa, hanya jalan-jalan. Masuk ke Game Masterpun, tidak berniat ikut main, liat orang main Danz Base saja kami sudah terhibur.

Akhirnya, kami memutuskan untuk pulang. 

Aku dan Rahmat terus berjalan mengikuti arah, tak berniat cepat-cepat memesan Ojek Online, kami memilih untuk berjalan. Tau-tau saja sudah sampai Braga.

Mungkin saja, di Asia Afrika kami bisa menemukan Cosplay Hatake Kakashi dan Naruto sage mode. 

Iya, Kakashi memang ada, tapi kami datang di waktu yang tidak tepat.

Kakashi sedang istirahat, ia makan sambil jongkok. Maskernya dibuka. 😏

Muz, 22 Maret 2018.

Galeri

Lupakan tulisan yang ingin masuk UPI, karena kenyataannya, aku sudah jadi keluarga UPI 😌

Pahlawan Seper’listrik’an

Kamar kost-ku dan Rahmat hanya beda satu kamar. Namun sepanjang tinggal di satu kost-an, frekuensi kunjunganku ke kamarnya bisa dihitung jari.

Semester kemarin kami berada di kelas yang sama, maka kami lebih sering bertemu. Semester ini sayangnya kelas kami terpisah dan otomatis jadwal kuliahpun berbeda. Kami jadi kurang bersapa.

Namun ada satu hal yang hanya aku dan gadis asal Baleendah itu bisa lakukan.

Tukang cetrek meteran listrik.

Meteran listrik di kost-ku kadang-kadang mati, dan dari sepuluh kamar, yang daek menyalakannya hanya aku dan Rahmat. Kalau kami tidak sedang berada di kamar, aku yakin Kost ACI 1 ini bakal gelap terus.

Waktu yang paling menyebalkan saat meteran ngajetrek terus adalah saat kuliah pagi dan listrik sedang sangat dibutuhkan untuk menyetrika dan menanak nasi, dan itu pernah terjadi. Ditambah, bukan hanya sekali meteran itu ngajetrek, tapi berkali-kali. Rahmat yang saat itu ada kelas jam 7 mesti gerak cepat bulak balik menyalakan meteran.

Maka, ibu kost sampai selalu memberiku amanat perihal kelistrikan. Jadi tukang meteran, laporan jika meteran bunyi (pulsanya habis), sampai diminta mengingatkan tetangga untuk mematikan listrik jika akan pergi lama. Khawatir konsleting listrik terjadi lagi.

Btw, aku menulis ini sesaat setelah aku dan Rahmat menyalakan meteran.

Ini Rahmat, Pawang Meteran.

Muz, 1 Maret 2018.

Bingkai Mata

Aku pernah menggunakan kaca mata saat MTs.

Di kelas delapan, aku mendapati mataku sering kali kurang fokus. Kalau melihat papan tulis, mesti menyipitkan mata dulu. Rasanya seperti mengatur lensa kamera DSLR dengan manual.

Sejak saat itu aku menggunakan kaca mata dengan lensa cembung. Teman sebangkuku kala itu, Annisa Fitri, juga menggunakan kaca mata. Jadilah kami samaan. Hehe.

Namun kaca mata itu tidak bertahan lama. Naik kelas sembilan, aku sudah melepasnya. Kaca mata itu rusak, kacanya lepas-lepasan terus.

Dan Desember lalu, tiba-tiba aku kangen dengan kaca mata.

Ibu sering bilang, kaca mata bohongan itu tidak baik untuk mata. Karena kekeuh, aku akali saja. Kaca yang terpasang aku copot, lalu kupakai dengan penuh percaya diri. 

Kalau kata Iis, kaca mata ini unfaeda, tidak ada manfaatnya sama sekali. Memang sih, karena sudah lebih dari dua kali mataku tercolok jariku sendiri. Kwkwk.

Asfia bahkan mengerutkan dulu keningnya di kali pertama ia melihatku dengan kaca mata unglasses. Ia menerka-nerka, lalu tiba-tiba membuat gerakan menusuk. Setelah itu terbahak.

“Ah, ini sih namanya bukan kaca mata, tapi bingkai mata!” Kemarin Zilva berkata demikian.

Aku hanya terkekeh, mengiyakan.

Muz, 8 Februari 2018.

Ciwalk, tentang Delegasi SAFAR 8 yang akhirnya bertemu

1.

2017, Festival Bahasa Arab dan Universitas Pendidikan Indonesia.

Waktu yang mendekati tengah malam menjadi awal cerita 27 orang di Ibu Kota. Bandung saat itu memeluk kami dengan udara dingin, mengantar kepergian dengan lampu jalan yang temaram. Menunggu kepulangan.

Pukul tiga di Jakarta sungguh berbeda. Selimut tak dibutuhkan, bahkan jaket-jaket dilepaskan. Suhu naik, terasa sangat asing bagiku, karena sangat terbiasa dengan udara sejuk.

Haha, tunggu, ini terlalu kaku.

Hei, aku takkan menceritakan bagaimana tiga hari berpijak dengan udara ngaheab (panas) di Ibu Kota pesisir pantai itu. Atau bagaimana suka duka 27 orang delegasi saat bertarung di atas panggung perlombaan. Atau sekadar cerita menggelikan di rumah tempat kami menginap.

Ini tentang rencana pasca kegiatan yang baru terlaksana kemarin sore.

Ciwalk, Cihampelas Walk menjadi destinasi pilihan. Jarak dari kampus hanya sekitar 15 menit dengan kendaraan, pun tempatnya bagus untuk sekadar jalan-jalan. Tempat ini juga menjadi destinasi wisata belanja dan wisata kuliner bagi turis manca negara dan domestik.

Aku—yang termasuk jarang main ke tempat-tempat seperti ini– cukup tahu dan tak buta arah. Tempat ini sudah banyak di rombak dari terakhir aku berkunjung saat masih berseragam putih-abu.

Dulu, Cihampelas bagiku adalah tempat yang menakjubkan. Banyak patung-patung karakter animasi di pajang sepanjang jalan. Yah, terlepas tidak ada satupun karakter anime yang dipasang. Namun sekarang, skywalk sudah dibangun, jalan dua arah yang sempit makin sempit. Macet tak bisa dihindari.

Sore sebelum magrib, semua yang sanggup hadir akhirnya berkumpul di Jonas Studio. 

Awalnya aku ogah-ogahan, sore itu hujan, aku berpikir lebih baik menyelesaikan satu season anime genre olah raga sambil berselimut. Tapi entah mengapa, akhirnya aku pergi juga.

Pikiran itu berbalik saat sudah bertemu semuanya. 

2.

Raa Chaa, Farah dan memisahkan diri dari rombongan.

Akhir-akhir ini aku sering pergi dengan Farah. Selain kost Farah berada satu daerah denganku, semester ini gadis lulusan PonPes Al-Ihsan itu berada di kelas yang sama denganku. Semester 2B, dan duduk di samping kursi kuliahku.

Sebenarnya aku belum begitu memahami sifat gadis ini. Banyak yang ia bisa, ia mudah menyanggupi apapun, aktif di banyak organisasi dan acara, namun tetap rendah hati.

Farah itu suka jajan, katanya ia sudah mencicipi semua jajanan yang dijajakan di warung-warung Cilimus. Tau tempat-tempat enak di Geger Kalong, dan tak pernah segan untuk mencoba hal baru.

Seperti kemarin sore, saat rombongan memilih KFC, kami berbelok ke Raa Caa.

Aku kira, tempat ini adalah rumah makan khas India. Tapi saat masuk, resepsionis memakai kostum khas thailand, menawarkan kuah kaldu atau tomyam. Karena aku suka kuah yang masam, aku memilih Tomyam, Farah hanya setuju.

Ini adalah kali pertamaku, namun kali ke sekian bagi Farah. Namun saat memilih menu, gadis itu masih saja bingung, bulak balik memilih.

Pilihanku jatuh di paket sayuran dan semangkuk ayam manis BBQ. Farah akhirnya memilih Ayam Pedas dan Ham dengan mozzarella. 

Kocek yang kami keluarkan lumayan menguras—bagiku, bagi Farah aku tidak tahu– tapi semua sudah terjadi, nikmati saja.

Hei, aku sering melihat meja dengan kompor di video Youtube yang aku lihat. Atau di episode-episode anime. Ini mudah, aku bisa melakukannya. Haha.

Malam dingin di Bandung, di temani sayur kuah tomyam. Rasa masamnya nyaman di lidah, aku selalu suka ini. Ini tidak jauh dari kuah tomyam di kedai Ramen dekat kampus. 

Padahal, kalau mau dihitung-hitung, harga makananku sekarang setara dengan tiga porsi ramen akhir bulan. Huft.

Tak apa untuk kali ini, sekali saja, yang penting akhir bulan nanti jangan sampai aku makan mi instan terus-terusan.

Muz, 8 Februari 2018.

Galeri :